SEKILAS INFO
  • 12 bulan yang lalu - Hadir dan Ikuti Shalat Idul Adha 1440 Hijriyah – Ahad, 11 Agustus 2019 di Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji  |  Imam : H. Achmad Suripno – Khatib : Ustadz Saryono Abu Iqbal.
  • 12 bulan yang lalu - Hadir dan Ikuti Shalat Idul Adha 1440 H – Ahad, 11 Agustus 2019 pukul 06: 30 Wib – di Masjid Nurul Falaah Kedungpuji  |  Imam : H. Achmad Suripno – Khatib : Ustadz Saryono Abu Iqbal
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Thursday, 6 08 2020 August 2020 >

IMSYAK 04:18
SUBUH 04:32
DZUHUR 11:42
ASHAR 15:03
MAGHRIB 17:33
ISYA 18:48
Diterbitkan :
Kategori : NEWS / NEWS UPDATE / SOSIAL BUDAYA
Komentar : 0 komentar

“…..Hari 17 Agustus adalah Hari Proklamasi, hari raya kita. Hari raya 18 Agustus adalah hari ultimatum dari umat Kristen Indonesia bagian Timur. Kedua-dua peristiwa itu adalah peristiwa sejarah. Kalau yang pertama kita rayakan, yang kedua sekurang-kurangnya jangan dilupakan. Menyambut hari Proklamasi 17 Agustus kita bertahmid. Menyambut hari esoknya, 18 Agustus, kita beristighfar. Insyaallah umat Islam tidak akan lupa.”

Itulah yang dinyatakan oleh Mohammad Natsir terhadap pencoretan tujuh kata Piagam Jakarta. Yaitu dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Seperti yang dicatat oleh Adian Husaini (Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, 2010) dikatakan bahwa Mohammad Natsir menyebut peristiwa tersebut sebagai ultimatum terhadap Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Masih menurut salah seorang murid dari Syed M. Naquib Al-Attas tersebut (Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab, 2015) dikatakan bahwa meskipun secara verbal terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangat jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Lebih jauh dikatakan oleh Cendekiawan Muslim dari UIKA-Bogor tersebut dalam buku yang sama bahwa muslim yang baik akan senantiasa memperbaiki negaranya, sebab negara dapat berguna sebagai penopang agama, dan sebaliknya negara juga dapat berperan sebagai perusak agama. Dengan cara pandang ini maka diskurus tentang “keislaman dan keindonesiaan” dapat menemukan bentuknya yang proporsional.

Buya Hamka memberikan diskripsi yang sangat indah mengenai peran umat Islam tersebut. Dalam salah satu tulisannya (“Kewajiban Bertanah Air” dalam Lembaga Hidup, 2015) dikatakan bahwa : “Bersatu bangsaku menyeru Tuhan, memohon tanah air memperoleh jaya. Terdengar adzan dipuncak menara, “hayya alal falah”, marilah bersama-sama mengejar kemenangan. Aku bersama bermilliun bangsaku pergi ke sana, mencecahkan dahi ke lantai, menyembah Tuhan. Sehabis shalat, kumohon pada Tuhan agar tanah airku diberkati.”

Tetapi tidak bisa dinafikan adanya sebagian umat Islam yang bermaksiat kepada Allah. Jika mengikuti pendapat Buya Hamka sebagai pengikut jahiliyyah modern. Lebih jauh dikatakan oleh seorang ulama pejuang tersebut (Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, 2016) dikatakan bahwa : “….Cobalah timbang dengan halus, apakah perbedaan mereka dengan umat dahulu kala yang dinamakan kaum jahiliyyah itu? Perbedaan itu ialah orang yang dinamakan jahiliyyah paham arti tauhid, tetapi tidak mau mengucapkannya, dan orang jahiliyyah sekarang pandai mengucapkan tauhid, tetapi tidak paham apa maksud dan isinya. Inilah yang dinamakan orang pada zaman ini dengan jahiliyyah modern.”

Terdapat pandangan menarik tentang wajah Islam di kepulauan Nusantara. Seperti yang dikatakan oleh Abdul Hadi, W.M. Menurut Cendekiawan Muslim tersebut (Cakrawala Budaya Islam, 2016) dikatakan bahwa barangkali karena pengaruh Madzhab Syaf’i’i dan tasawuf itulah yang menyebabkan wajah Islam di Nusantara, khususnya Indonesia, tampak lembut dan luwes. Tetapi tidak lantas dipahami bahwa Islam di rantau ini lemah dan mudah menyerah. Kiranya bisa disetujui pendapat Abdul Hadi, W.M. ini dibuktikan dalam sejarah tentang kontribusi umat Islam dalam perjuangan bangsa baik melalui perjuangan politik maupun perjuangan bersenjata.

Dengan demikian semoga kita tidak termasuk pengikut jahiliyyah modern. Seperti yang dikritik oleh Buya Hamka. Dibuktikan dengan pengertian yang mendalam dan bersabar dalam menanggung konsekuensi dari apa-apa yang biasa kita ucapkan dan kita lakukan sebagai orang yang berserah diri kepada Allah. Dan juga dapat terlibat secara aktif melanjutkan perjuangan para pendahulu mewujudkan sebuah negara yang baik dimana rakyat dan para pemimpinnya berkenan untuk selalu mohon ampun kepada Allah. Allohu Al-Musta’an.

Penulis : Bambang Purwanto, S.Ag.

Source Gambar : https://www.dream.co.id/

SebelumnyaBudaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi SesudahnyaMencari Teman Sejati
Persiapan Hadapi New Normal, Masjid Nurul Falaah Gombong Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah Persiapan Hadapi New Normal, Masjid Nurul Falaah Gombong Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah
GOMBONG, (NurfalNews) – Sebagai upaya untuk mendukung kebijakan pemerintah menjelang diterapkannya tatanan hidup baru atau new normal. Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji, Kecamatan Gombong Kebumen kini mulai berbenah. Salah satunya...
Masjid Nurul Falaah Gombong Tetap Akan Laksanakan Sholat Idul Fitri Masjid Nurul Falaah Gombong Tetap Akan Laksanakan Sholat Idul Fitri
GOMBONG, Kebumen24.com – Pemerintah Kabupaten Kebumen telah menghimbau kepada seluruh umat muslim untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri di rumah saat lebaran nanti. Meski begitu, pemerintah juga tidak melarangnya jika ada...
Semangat Sambut Romadhon Ditengah Pandemi Corona Semangat Sambut Romadhon Ditengah Pandemi Corona
GOMBONG, Kebumen24.com – Ramadhan 2020 atau 1441 Hijriah akan segera datang. Masyarakat Desa Kedung Puji Kecamatan Gombong melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dan area Masjid guna menyambut bulan suci tersebut....
Waspada Corona, Masjid Nurul Falaah lakukan semprot Disinfectant. Waspada Corona, Masjid Nurul Falaah lakukan semprot Disinfectant.
GOMBONG (NurfalNews) – Beragam cara dilakukan untuk mencegah atau mengantisipasi penyebaran wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Masjid Nurul Falaah desa Kedungpuji Kecamatan Gombong berkordinasi dengan Puskesmas Gombong I melakukan...
Cegah virus Corona, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Gelar Jumat Sehat Cegah virus Corona, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Gelar Jumat Sehat
KEBUMEN (NurfalNews) – Beragam cara dilaksanakan oleh Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji Gombong untuk dapat berbagai dengan sesama. Salah satunya dengan menggelar program Jumat Sehat yang dilaksanakan setiap Hari Jumat...
Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Gelar Sunatan Masal Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Gelar Sunatan Masal
KEBUMEN (NurfalNews)-Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji Gombong kerap kali melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari memerikan santunan, bersih lingkungan, pengajian hingga sunatan masal. Dibawah pimpinan Ketua Takmir Masjid Nurul Falaah...


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.